Setelah post pertama mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), pada post kali ini akan saya lanjutkan mengenai kelompok resiko hingga penatalaksanaan KIPI.

Yang termasuk ke dalam kelompok resiko pada pemberian imunisasi adalah :

– Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu

  • Hal ini harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI setempat dan KN PP KIPI dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia untuk penanganan segera
– Bayi berat lahir rendah
  • Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:
  • Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dari pada bayi cukup bulan
  • Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan; imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih kecuali bila ibu mengandung HbsAg
  • Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak menyebabkan penyebaran virus polio melaui tinja
– Pasien imunokompromise
  • Keadaan imunokompromise dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia.
  • Imunisasi tetap diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/ kg berat badan/hari selama 14 hari.
  • Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi selesai.

– Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin

  • Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk menghindarkan hambatan pembentukan respons imun.
Indikasi Kontra dan Perhatian Khusus Untuk Imunisasi :
Pada umumnya tidak terdapat indikasi kontra imunisasi untuk individu sehat kecuali untuk kelompok resiko. Pada setiap sediaan vaksin selalu terdapat petunjuk dari produsen yang mencantumkan indikasi kontra serta perhatian khusus terhadap vaksin. Petunjuk ini harus dibaca oleh setiap pelaksana vaksinasi. (cfs/pedoman tata laksana medik KIPI bagi petugas kesehatan).
– Secara umum (berlaku untuk semua vaksin):
  • alergi terhadap vaksin (setelah vaksinasi pertama timbul reaksi alergi, bahkan sampai syok),
  • alergi terhadap zat lain yang terdapat di dalam vaksin (antibiotika yang terdapat di dalam vaksin, pengawet , dll),
  • sakit sedang atau berat, dengan atau tanpa demam (sakit akut ringan dengan atau tanpa demam bukan indikasi kontra imunisasi)

– Secara khusus (untuk beberapa vaksin)

  • Imunodefisiensi (keganasan darah atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi dengan obat-obatan yang menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid (prednisone, metil prednisolon) jangka panjang.–> imunisasi polio oral, MMR, varisela
  •  Infeksi HIV (polio oral dan varisela) atau kontak HIV serumah (polio oral)
  • Imunodefisiensi (gangguan kekebalan tubuh) penghuni rumah à polio oral
  • Kehamilan à MMR, Varisela (tapi bila ibunya yang hamil, tidak apa-apa bila anaknya diimunisasi)
PEMAHAMAN YANG SALAH
  • vaksinasi MMR menyebabkan autisme,
  • beberapa vaksinasi menyebabkan sindroma kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome),
  • kadar thimerosal (zat pengawet) yang terdapat dalam vaksin begitu tinggi sehingga bisa menyebabkan keracunan merkuri, dan lain sebagainya.
Ternyata pendapat-pendapat tersebut tidak berdasarkan bukti-bukti ilmiah, hanya berupa dugaan belaka. Berbagai penelitian yang telah dilakukan tidak menemukan hubungan secara langsung kejadian-kejadian tersebut dengan pemberian vaksinasi.
PENATALAKSANAAN KIPI
– Vaksin induced –
  • Reaksi lokal ringan — nyeri, eritema, bengkak daerah suntikan <1cm, timbul <48 jam setelah imunisasi — kompres hangat, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian
  • Reaksi lokal berat — eritema/indurasi > 8 cm, nyeri, bengkak, dan gejala sistemik —kompres hangat, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian — bawa ke PKM jika tidak ada perubahan
  • Reaksi arthus — nyeri, bengkak, indurasi, edema (akibat reimunisasi pada pasien dgn kadar antibodi yang masih tinggi), timbul 12-36 jam setelah imunisasi — kompres hangat, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian, rujuk RS
  • Reaksi sistemik — Demam, lesu, nyeri otot, nyeri kepala, menggigil — minum hangat, selimut, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian
  • Kolaps/sinkope
  • Episode hipotonik/hiporesponsif, anak sadar tp tdk responsif, frek, amplitudo nadi dan tekanan darah normal — rangsang wewangian, tidak teratasi dlm 30 menit —- rujuk
  • Sindrom GuillanBarre (jarang) — rujuk
  • Neuritis brakhialis – parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian, bila keadaan menetap – fisioterapi di RS
  • Syok anafilaksis
SYOK ANAFILAKSIS
  • Terjadi mendadak
  • Gejala klasik, kemerahan, merata, edema
  • Urtikaria, sembab kelopak mata, sesak nafas berbunyi
  • Jantung berdebar kencang
  • Anak pingsan, tidak sadar
  • Dapat terjadi langsung penurunan tekanan darah dan pingsan tanpa didahului oleh gejala lain
  • Suntik adrenalin 1:1000 —- 0,1-0,3 cc subkutan —- jika pasien membaik dan stabil —- inj dexamethason 1amp IV/IM
  • Segera pasang infus NaCL 0.9% 12 tetes/menit
  • Rujuk RS terdekat

– Akibat Kesalahan Program –

  • Abses dingin – krn vaksin masih dingin — kompres hangat, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian
  • Pembengkakan – penyuntikkan kurang dalam —kompres hangat
  • Sepsis — tidak steril — timbul >1mgg setelah penyuntikkan — kompres, parasetamol 10-15 mg/kgBB/x pemberian, rujuk
  • Tetanus — rujuk
  • Kelumpuhan/kelemahan otot — lokasi penyuntikkan salah — fisioterapi

– Karena faktor Host –

  • Alergi — Bengkak bibir dan tenggorokan, sesak nafas, eritema, papula gatal, tekanan darah menurun — Inj dexa 1 amp, jika berlanjut infus NaCl 0,9% 12 tetes/menit
  • Psikologis — Ketakutan, berteriak, pingsan — Tenangkan penderita, beri minum
– Koinsiden –
  • Gejala penyakit terjadi secara kebetulan bersamaan dengan waktu imunisasi
  • Gejala dapat berupa salah satu gejala KIPI atau bentuk lain
  • Tangani sesuai gejala dan penyakit
  • Cari info ttg kasus lain di sekitar pada anak yang tidak diimunisasi
  • Kirim ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut