Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial (Konsensus Penanganan Kejang Demam, UKK neurologi IDAI, 2005). Kejang demam tidak disebabkan oleh infeksi SSP, tidak ada riwayat kejang neonatus, tidak ada riwayat kejang tanpa provokasi sebelumnya, dan tidak ada penyebab kejang lain yang teridentifikasi (ketidakseimbangan elektrolit, dll) (ILAE, commission on Epidemiology & Prognosis, 1993). Sedangkan National Institutes of Health, pada Consensus Conference tahun 1980, menyatakan bahwa kejang demam adalah suatu kondisi pada bayi atau anak, yang biasanya terjadi di antara usia 3 bulan – 5 tahun, berkaitan dengan demam tanpa bukti infeksi intracranial atau penyebab tertentu, dan kejang terjadi pada anak tanpa riwayat kejang non-demam sebelumnya.

Sekitar 2%-4% kejang demam terjadi pada anak usia 6 bulan – 5 tahun. Kejang pertama biasanya terjadi antara usia 17-23 bulan, jarang terjadi di bawah usia 9 bulan atau di atas usia 7 tahun. Kejang demam lebih banyak menyerang anak laki-laki dibanding perempuan. 80% merupakan kejang demam sederhana. Sekitar 2%-4% anak kejang demam berkembang menjadi epilepsi dengan frekuensi 4x populasi normal.

Penelitian terbaru menunjukkan ada pengaruh genetik terhadap kejang demam. Keluarga dengan kejang demam merupakan suatu faktor resiko. Namun gen atau lokus spesifik yang bertanggung jawab belum diketahui dengan pasti.
Penyebab kejang demam sering terjadi pada anak masih belum jelas, namun diduga pada usia muda otak lebih sensitive terhadap peningkatan suhu tubuh dan mudah terjadi kejang. Pada percobaan tikus in vitro menunjukkan peningkatan temperatur pada hippocampus menginduksi aktivitas epileptiform. Tikus muda denga gangguan neuronal migrasi lebih rentan terhadap kejang akibat hipertermia yang akhirnya merusak hippocampus.

Kejang demam terdiri dari kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Pada kejang demam sederhana kejang berlangsung kurang dari 15 menit, bersifat kejang umum, dan tidak berulang dalam 24 jam. Sedangkan pada kejang demam kompleks kejang berlangsung lebih dari 15 menit, kejang fokal atau parsial kompleks, dan kejang berulang lebih dari 1x dalam 24 jam.
Pada kasus kejang demam perlu dilakukan anamnesa tipe, lama, dan frekuensi kejang. Perlu dilakukan penelusuran penyebab panas dan faktor resiko yang mungkin ada. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pemeriksaan neurologis dalam batas normal dan perlu dilakukan pencarian tanda infeksi ekstrakranial.
Diagnosa banding kejang demam adalah meningitis bakterialis, ensefalitis, dan meningoensefalitis TB. Diagnosa ditentukan melalui gejala klinis dan jika dicurigai adanya infeksi SSP perlu dilakukan lumbal punksi. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium rutin untuk mencari penyebab demam. Punksi lumbal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.

Untuk lumbal punksi, jika usia anak kejang demam di bawah 12 bulan maka lumbal punksi sangan dianjurkan pada kejang demam pertama. Dianjurkan jika usia anak 12 – 18 bulan dan merupakan pemeriksaan yang tidak rutin jika usia anak di atas 18 bulan. Pemeriksaan EEG pada kejang demam tidak diperlukan karena tidak dapat memprediksi berulangnya kejang demam atau kejadian epilepsi di kemudian hari.

Penatalaksanaan kejang demam :
– Antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali, 4x per hari atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali 3-4x per hari).
– Kompres dengan air suam kuku atau air dingin biasa (bukan air es)
– Antikonvulsan profilaksis
– Mengobati etiologi demam
– Edukasi orang tua

Antikonvulsan profilaksis dapat diberikan sebagai profilaksis intermitten yang diberikan saat demam, pilihan obat dapat diberikan diazepam oral (0,3 mg/kg selama 2-3 hari) atau rectal (BB 10 kg : 10 mg atau jika usia 3th : 7,5 mg) . Sedangkan untuk profilaksis kontinu (rumat) dapat diberikan Phenobarbital oral (3-5 mg/kg tiap 12 jam) atau asam valproat oral (15-40 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 dosis).

Untuk antikonvulsan rumat pada tatalaksana kejang demam pemberian asam valproat diberikan selama 1 tahun bebas kejang, dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Pemberian Phenobarbital tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang karena pemakaian jangka panjang mengakibatkan gangguan perilaku dan gangguan belajar irreversible (40%-50%). Pengobatan rumat kejang demam dipertimbangkan pada keadaan sebagai berikut :
– Kejang lama lebih dari 15 menit
– Kejang fokal atau parsial kompleks
– Ada kelainan neurologis nyata sebelum kejang seperti serebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus, mikrosefali, dll
– Kejang demam pada bayi < 1 tahun
– Kejang lebih dari 2x dalam 24 jam
– Kejang demam lebih dari 4x per tahun

Penting untuk melakukan edukasi pada orang tua. Edukasi yang harus diberikan adalah penjelasan yang meyakinkan bahwa kejang demam pada umumnya tidak berbahaya, memberikan informasi kemungkinan kejang kembali, menerangkan cara penanganan kejang di rumah, perlunya menyediakan diazepam rectal untuk menghentikan kejang, penjelasan terapi profilaksis yang efektif untuk mencegah rekurensi kejang demam beserta efek sampingnya, dan penjelasan tidak ada bukti terapi akan mengurangi kejadian epilepsi.

Hal yang harus dikerjakan orang tua bila terjadi kejang di rumah adalah bersikap tenang tidak panik, kendorkan pakaian yang ketat, posisikan anak terlentang dengan kepala miring, bersihkan muntahan dan lendir dari mulut dan hidung, dan jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut, walau ada kemungkinan lidah tergigit. Memasukkan benda apapun kedalam mulut saat anak kejang dapat menghalangi jalan nafas dan dapat membahayakan nyawa anak. Ukur suhu, catat lama kejang dan bentuk kejang, beri diazepam rectal (jangan diberikan bisa kejang sudah berhenti) dan bawa ke rumah sakit bila kejang berlangsung lebih dari 5 menit. Penting juga untuk mengajarkan cara penggunaan rectal tube yang benar pada orang tua.

Cara penggunaan rectal tube :
– Baringkan anak dalam posisi miring
– Lepaskan tutup botol dan oleskan mulut botol dengan baby oil
– Masukkan mulut botol perlahan dengan menekan mulut botol pada pinggir anus agar relaksasi. Pada anak < 3 tahun masukkan setengah dari panjang mulut tube, pada anak lebih besar masukkan seluruh mulut tube.
– Pijit seluruh isi botol, dan pada saat mengeluarkan tetap dalam keadaan dipijit
– Rapatkan kedua pantat untuk mencegah obat merembes keluar

Hingga saat ini tidak pernah dilaporkan terjadi kecacatan atau kematian sebagai komplikasi dari kejang demam. Terdapat beberapa faktor resiko yang meningkatkan resiko kejang demam berkembang menjadi epilepsi. Faktor resiko tersebut adalah :
– Kelainan neurologis yang nyata sebelum kejang demam pertama
– Kejang demam kompleks
– Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Jika terdapat satu faktor resiko berkembang menjadi epilepsi sekitar 4-6%. Jika terdapat lebih dari satu faktor resiko meningkat menjadi 10-49%. Epilepsi tidak dapat dicegah dengan obat rumat.

Kejang demam bisa berulang (rekurensi). Faktor resiko terulangnya kejang adalah adanya riwayat kejang demam dalam keluarga, usia saat kejang pertama <18 bulan, suhu tubuh berkisar 38oC (tidak terlalu tinggi) saat kejang, dan cepatnya timbul kejang setelah demam < 1 jam.

Persentase resiko rekurensi (Berg et.al. predictors of recurrent seizures):
– Faktor resiko 0 : 4%
– Faktor resiko 1+ : 23%
– Faktor resiko 2+ : 32%
– Faktor resiko 3+ : 62%
– Faktor resiko 4+ : 76%