Seperti biasa, hari Selasa datang lagi, berarti jadwal saya hari ini ke puskesmas Cigayam, Banjarsari, Kab. Ciamis. Medan menuju puskesmas Cigayam cukup sulit ditempuh. Jalan desa yang rusak parah, berlubang-lubang besar, ditambah dengan jalan dusun yang berbatu-batu, naik-turun gunung, dengan gunung dan lembah di sisi kiri-kanan bergantian. Dari jalan raya ke puskesmas dengan motor bisa ditempuh 30-45 menit, kalo naik mobil bisa 1 jam lebih. Oleh karena itu saya belum pernah menempuh medan yang cocok dipake jalur off-road ini (hehe) sendirian. Setiap Selasa ada pegawai puskesmas yang menjemput saya ke jalan raya di Cikohkol. Dari rumah ke Cikohkol sendiri ditempuh selama 1 jam dengan bus kota atau elf atau nyetir sendiri kalo lagi mood.

Seperti biasa, yang menjemput saya adalah Pak Yoyo — Mang Yoyo tepatnya karena masih sodara ^^–. Setelah sekitar 30 menit terguncang-guncang di atas motor akhirnya sampe juga ke puskesmas Cigayam. Puskesmas yang sejuk, bersih, tapi terlampau sepi menurut saya. Pasien yang saya periksa hari ini pun hanya 3 orang saja. Mudah-mudahan ini karena masyarakat yang memang sehat, bukan karena sulitnya perjalanan ke puskesmas.

Menjelang jam 10.00 WIB, saya mendapat berita mengenai kedatangan staf Dinas Kesehatan Kab. Ciamis ke wilayah Desa Banjaranyar, Cigayam. Sehingga berangkatlah kami ber-5 (kepala puskesmas, saya sendiri, dan 3 orang pegawai puskesmas) ke kantor Kepala Desa Banjaranyar. Rupanya acara sudah dimulai.

Pertemuan ini menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang membahas mengenai CLTS (Community-Led Total Sanitation). Dengan segala permasalahan yang ada, pertemuan menitikberatkan pada target tercapainya Desa Banjaranyar sebagai Desa ODF alias Open Defecation Free alias lagi, bebas dari warga yang BAB sembarangan. Naaah, yang selama ini cuma saya baca di teori, hari ini nih saya mendengarkan langsung dari masyarakat sendiri, kelakuan tetanggga-tetangganya, perilaku kawan-kawannya yang maaasih saja BAB di sembarang tempat. Banyak ternyata…lebih banyak dari warga yang sudah BAB di toilet. Kolam ikan, Kebun, Sawah, Sungai, Tunggul pohon, bahkan kantong plastik (kantong keresek, kantong asoy kalo di Medan) pun menjadi toilet mereka. Ow ow ow….

Jadi hari ini kami pun sibuk membahas bagaimana caranya agar perilaku BAB sembarangan ini bisa diatasi. jadilah CLTS ini punya kepanjangan lain, CLTS alias Cuma Lubang T** Saja yang kami urus. ^o^ Semangat warga hari ini benar-benar membanggakan. Seorang warga semangat melaporkan dari haya 6 KK saja yang memiliki WC, sekarang sudah 35 KK yang mempunyai WC. Warga lain menuturkan warga sudah mau mengantri ke WC umum dan tidak lagi mengantri di balong (kolam ikan-red), hanya saja mereka menyamakan wc umum dengan balong itu tadi, dimana setiap selesai BAB tidak perlu disiram lagi tinggal pergi. Oh my God, can u imagine it?! Akhirnya si kader lah yang jadi korban tiap pagi nyiram-nyiram closet. Duh, semoga bapak ini dapat pahala dan rejeki yang banyak :-0< amiiin

Kemudian seorang aparat desa melaporkan bahwa hampir seluruh warganya sudah beralih ke penggunaan toilet daripada kolam ikan, namun ada satu warganya yang membandel. Bukan tidak mau, bukan juga tidak mampu, namun rupanya sang bapak memang benar-benar tidak bisa BAB kalau tidak di kolam ikan. Bahkan ketika beliau pergi ke kota, waktu mau BAB beliau sibuk mencari kolam ikan. Bukankah sulit kalo sudah begini? Tidak hilang akal, staf dinas kesehatan menyarankan bahwa tidak usah memaksa si bapak untuk membuat wc. Biarkan beliau dengan segala kesenangannya dengan BAB di kolam ikan ^^, tp saluran pembuangan dibelokkan jangan ke kolam ikan tp tetap ke darat, ke septik tank. Kawan bukankah itu ide jenius? ^o^

Lalu ada seorang warga yang dilaporkan tidak mendukung program pemerintah ini, karena ia senang BAB di tunggul pohon (yang ini gak kebayang nih gimana bentuknya). Karena sulitnya menerima perubahan, maka ditugaskanlah langsung kepala desa yang menangani orang ini. Itu sebelum tiba-tiba seorang bapak yang aktif menggerakkan warga dalam kegiatan ODF ini mengacungkan tangan dan berteriak dengan lantang, "Untuk urusan yang satu ini, sebelum pak Kuwu (kepala desa) turun tangan, biar saya dulu yang menangani," semua hadirin bertepuk tangan "sebab tadi yang seneng tunggul itu …..anak saya" kami pun semua tertawa terbahak-bahak.

Senangnya menghadiri pertemuan desa kali ini. Masalah yang dihadapi sebenarnya hanya simple saja. Jangan BAB sembarangan. Namun ternyata kendala yang dihadapi begitu membentang sepanjang jalan. Yang dihadapi adalah jiwa per jiwa, orang per orang, serta tentu saja lingkungan yang mendukung untuk menjadikan warga berperilaku demikian. Namun semua halangan tidak tampak begitu sulit hari ini, karena semua peserta begitu semangat mengurus Cuma Lubang T** Saja ini. Dibahas dengan penuh canda tawa namun tetap fokus terhadap target.

Sesuai namanya, program ini tidak didanai pemerintah, tetapi total swadaya dari masyarakaat. Staf dinas kesehatan dan staf puskesmas hanya merupakan penggerak, pendorong, motivator bagi warga untuk dapat berubah mengarah ke perilaku hidup bersih dan sehat. Namun demikian, dinas kesehatan pun tetap membangun proyek percontohan sebagai contoh. Alangkah senang hati saya kalau warganya semangat seperti ini. Rintangan sesulit apapun mudah dihadapi kalau dihadapi bersama. Bahkan dengan alasan ekonomi sesulit apapun, tidak ada alasan untuk BAB sembarangan. Tidak mampu membuat wc? minimal buatlah lubang sedalam 3 meter khusus untuk BAB dan tutup setelahnya. Yang penting tidak BAB sembarangan. Itulah yang kami bahas hari ini. Seminim apapun, berubahlah, dan perubahan-perubahan selanjutnya pasti akan datang. Sedikit demi sedikit. Tahukah anda? dibekali contoh cetakan dari dinas kesehatan, seorang warga yang seorang ustadz menggunakan cetakan tersebut untuk membuat kloset produksi desa Banjaranyar. Bagus lho hasilnya, mirip dengan kloset asli yang mahal-mahal itu, yang amerika-amerika standar itu ^-^.

Begitulah, setelah pertemuan yang penuh semangat berakhir siang itu, kami melanjutkan program dengan mengunjungi wilayah desa Sukamaju, desa sang ustadz yang kebetulan sedang membangun wc milik salah seorang warga. Perjalanannya sebenarnya lebih cocok disebut dengan wisata alam. Lagi, naik-turun gunung, susuri sungai, lewati lembah, hamparan sawah begitu luas, hutan-hutan jati, dengan jalan khas desa, berbatu-batu. Inilah paru-paru dunia, pikir saya. Wah terima kasih nih harusnya orang-orang kota, bahwa suplai oksigen mereka mungkin saja sebagian berasal dari sini. Alangkah sedih kalo paru-paru dunia ini dikotori juga oleh sebagian saudara kita yang mungkin bukan tidak mau tapi belum tau perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih miris lagi kalau paru-paru dunia ini dihancurkan oleh sebagian dari kita yang tanpa perasaan menghancurkan, menggunduli, mengganti pohon dengan beton, apalagi dilakukan orang luar yang merampas hak-hak warga di sini yang hidup dengan segala keterbatasannya.

Semoga setiap program yang dilakukan pemerintah bisa sukses, bisa berjalan untuk kebaikan masyarakat. Semoga lebih banyak lagi orang-orang pemerintah yang seperti bapak-bapak dan ibu-ibu dinas kesehatan ini yang mau turun langsung melihat keadaan warganya langsung dengan mata kepala sendiri. Dan semoga harapan yang sederhana, Desa Banjaranyar, Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat, Indonesia bisa Open Defecation Free. Amin ^o*