Aku dan buku…mungkin lebih tepat aku dan buku cerita.. entah sejak kapan aku dan buku terasa begitu dekat..buku begitu mampu menyentuh dasar hatiku, menyeruak keluar bersama imajinasiku, merasuk ke dalam urat-urat nadiku.. Oh begitu puitis tulisanku sejak aku mengenal buku.

Aku cinta membaca cuku cerita. Membaca buku cerita atau novel membuat hari-hariku terasa lebih beragam, lebih berwarna, lebih luas, lebih indah. Saat membaca cerita, maka aku akan membawa diriku ke dalam buku, dan aku akan menyaksikan semua cerita dan tokoh-tokohnya layaknya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri alih-alih sedang membacanya.

Imajinasiku boleh dibilang kelewat tinggi dibandingkan teman-temanku. Maka dengan imajinasi aku bisa menangisi hal-hal yang kubayangkan namun tak pernah terjadi itu. Dengan berimajinasi sebelum tidur maka aku bisa memimpikan apa yang sebelumnya kuimajinasikan, maka aku bermimpi dikejar-kejar kuntilanak setelah aku membayangkan di pohon mangga di belakang rumahku setiap malam duduk kuntilanak dengan segala ciri khasnya, menyeramkan tapi sungguh menyenangkan saat aku bermimpi ternyata Ayahku mengetuk pintu dan masuk ke rumah dan berkata, “Bapak belum meninggal, lho!” dengan entengnya.

Dengan imajinasi, maka aku lah yang menentukan tema permainan kami saat masih di bangku sekolah dasar. Siapa yang jadi majikan, siapa yang jadi pembantu, siapa yang jadi tamu, apa yang harus dibicarakan.

Imajinasiku meledak-ledak saat membaca buku cerita, aku tenggelam di dalamnya, mengarungi samudera makna di dalam setiap baris katanya, membumbung tinggi di udara penuh gambar tak kasat mata yang kuciptakan sendiri. Maka aku sedikit kecewa, saat imajinasiku sedikit atau banyak terganggu oleh versi layar lebar Harry Potter, atau Ayat-ayat Cinta, atau Laskar Pelangi dan tidak ada cela untuk versi layar lebar The Lord of the Ring atau Narnia atau Beautiful Mind, karena imajinasiku belum menyelami versi bukunya. Dan tentu saja minatku membaca versi bukunya sedikit berkurang, meskipun masih bisa dibilang teramat besar, karena sudah nonton versi layar lebarnya yang berarti sudah tau akhir ceritanya. Tidak ada asyiknya sensasi rasa penasaran ingin mengetahui akhir cerita.

Dengan imajinasi, aku bisa keluar dari suntuknya rutinitas sehari-hari, bisa menjadi orang lain yang bebas saja aku inginkan, bisa menikmati jalanan macet di terik tengah hari yang menyengat, bisa tersenyum dalam ketidakpuasan, dan bisa menangis saat ingin menangis tapi tidak ada hal yang bisa ditangisi…tentu saja. Tampak melankolis…namun semakin hari semakin aku menyadari kemelankolisanku sendiri. Aku dulu tidak pernah tau kenapa aku selalu menggambar orang menangis, candy yang sedang terduduk pilu di ruang hukuman asrama, usagi tsukino saat menjadi princess …., atau menggambar orang yang sedang menangisi kuburan seseorang sesaat setelah Ayahku meninggal. Mungkin itulah diriku yang tidak pernah kusadari, melankoliskah namanya? Entahlah… imajinasiku lebih cepat terbentuk saat harus membayangkan suasana yang kelam, daripada membayangkan sesuatu yang menyenangkan…meskipun bisa kubilang keduanya tetap sama hebatnya.

Imagination is more important than knowledge, Albert Einstein