Akhirnya waktunya tiba, pelaksanaan ujian ptt provinsi Jawa Barat, Kamis, 14 mei 2009. Karena tdk bisa libur terlalu lama, saya memutuskan pergi ke Bandung hari Rabu, 13 Mei 2009 dan rencananya setelah ujian rampung saya akan langsung bertolak kembali lagi ke Ciamis. Hari Jumat harus sudah masuk kerja lagi. Dan karena Cuma sekejap saja di Bandung itu, Cuma semalam saja, saya putuskan tidak membawa serta Zahra, anak saya yang masih berumur 13 bulan dan badannya agak hangat pada hari Selasa pagi, supaya Zahra bisa istirahat dan tidak terlalu capek karena saya ke Bandung naik mobil bak terbuka — sambil membawa kursi pesenan ibu saya di Bandung–, dan perkiraan saya maksimal besok sore sudah ada di Ciamis lagi. Lagipula, Zahra sudah mulai terbiasa minum susu UHT, saya pikir libur ASI sehari saja tidak apa-apa.

Hari Kamis jam 6 pagi saya sudah melesat mengendarai sepeda motor dari Dayeuhkolot ke Pasteur. Bersepeda motor di jalanan Bandung bagaikan balapan motor off road. Salip-menyalip dengan truk dan bus besar, nyelip-nyelip di kemacetan, bersusul-susulan dengan sepeda motor lain, dan tentu saja jalanan yang rusak berlubang-lubang besar tergenang air hujan sehingga cocok jika didalamnya dipelihara ikan gurame saking besar dan dalam lubangnya. Tapi asyik juga mengendarai sepeda motor di Bandung. Sempat terpikir saat melihat kemacetan dimana-mana, kalau naik mobil kapan sampainya ya Dayeuhkolot-Pasteur? Naik sepeda motor bisa nyelip-nyelip, bisa nakal-nakal sedikit naik trotoar –hehe, mengikuti jejak sepeda motor di depan– dan senangnya saat sepanjang jalan dari Universitas Langlangbuana -sepanjang Jl. Sunda- Belitung – hingga bertemu jembatan layang Pasteur bebas lampu merah!!! Beruntung dapat lampu hijau terus. Tapi betapa Allah SWT Maha Adil, maka sepanjang Jl. Pasteur hingga sampai ke DinKes Provinsi Jabar, saya selalu terjebak lampu merah hingga sampai perjalanan pulang, selalu ketemu lampu merah. 
Sekian info perjalanan menuju ujian, dan sampailah saya ke lokasi ujian. Betapa senang hati saya, saya pikir tidak akan banyak orang yang saya kenal sehingga saya harus cari-cari orang yang kenal supaya tidak bengong saat menunggu ujian, ternyata saat saya memasuki gerbang, sudah duduk empat orang teman sejawat sealmamater, yang sudah 2 tahunan tidak pernah bertemu. Segeralah saya cipika-cipiki (cium pipi kanan – cium pipi kiri – red), dan bersenda gurau dengan mereka. Senangnya bisa bercengkerama dengan orang-orang yang sudah lama tidak bertemu. Lalu kemudian dari arah gerbang, datang lagi seorang teman yang sangat kukenal, sahabat bisa dibilang, semakin menyenangkan suasana ujian ini. Dan saat masuk ruang ujian, semakin banyak dan banyak lagi rekan satu almamater yang sudah hadir atau menyusul berdatangan, bahkan rekan sesama dokter beda almamater, tapi satu SMA atau satu RS selagi coass. Wah suasana sepi yang terbayang, langsung berubah jadi semarak.
Pukul 8 pagi, ujian psikotest dimulai. Saya kira hanya psikotest seperti ujian masuk PNS kemarin yang hanya menjawab soal-soal seperti ujian UMPTN, ternyata psikotestnya seperti psikotest saat saya dulu mencoba masuk SMA Taruna Nusantara. Test nya beragam dan lama. Tapi karena sudah pernah menjajalnya, jadi tidak berasa begitu lama. Seandainya tidak ada rasa sakit yang mengganjal, niscaya saya akan sangat menikmati psikotest ini. Menghitung, mencocokkan gambar, menganalisa gambar, melengkapi gambar, menggambar pohon, menggambar orang, menghitung ribuan angka pada kertas sebesar lembaran Koran, ah menyenangkan. Seru menyelingi rutinitas sehari-hari yang membosankan. Tapi, sejak kemarin tidak menyusui Zahra, rasanya dada saya sakiiiiittt sekali, bagaikan mengantongi batu di dalamnya. Sejak sesampai saya di Bandung, ASI nya sudah saya perah untuk mengurangi sakitnya, tapi rupanya otak saya terus mengirim sinyal agar glandula-glandula mammae saya terus memproduksi ASI. Sulit untuk menggambarkan rasa sakitnya, mungkin hampir semua ibu menyusui di seluruh dunia ini pernah merasakannya. Pukul 2 dini hari tadi saja saya terbangun saking sakitnya berdenyut-denyut serasa mau meledak, dan meskipun ngantuk berat melanda terpaksa saya memerah ASI pukul 2 dini hari. Oh Zahra, apa Zahra di Ciamis lagi mau mimik ASI ya? Oh Zahra maafin mama nggak ajak Zahra ke Bandung, oh Zahra tolong mama, ini sakit sekali.
Demikianlah, sejak tiba di lokasi ujian, dada saya sudah terasa sangat sakit. Ujian psikotest berlangsung dari pukul 8 pagi sampai kira-kira pukul 12.30. selama itu saya menahan rasa sakit yang terus dan terus semakin bertambah sakit. Menghitung ribuan angka yang perlu konsentrasi dan kekonstanan, karena meskipun Cuma harus menghitung setiap 2 angka tapi kalau jumlahnya ribuan kan mumet juga, saya lalui dengan rasa sakit yang sangat yang berdenyut-denyut, ditambah sakit perut setiap menarik napas. Ah ini lagi, sepertinya saya masuk angin karena menerjang jalanan sepanjang Dayeuhkolot-Pasteur dengan sepeda motor dengan sarapan yang cuma sepotong roti dan segelas susu. Rasanya sangat tidak nyaman. Tapi tetap saya paksakan berkonsentrasi, karena bagaimanapun it was fun, di luar rasa sakit yang mendera, saya menikmati angka-angka ini. 
Ujian psikotest yang cukup lama ini menyenangkan, tapi menahan sakit ini rasanya membuat saya gila. Saya meringis sepanjang hari, menerima ungkapan simpati dari teman-teman. Padahal ada yang lebih tragis, ada teman saya yang 4 hari lagi adalah taksiran persalinan anak pertamanya, dan sekarang pun rahimnya sudah mulai sering kontraksi, takutnya ia partus pas lagi ujian. Tapi kesakitan yang saya rasakan menghilangkan rasa simpati untuknya, saya jadi lebih bersimpati pada diri sendiri. Aduuuhhh…
Namun, semua belum berakhir, masih ada satu ujian lagi. Ujian materi kesehatan. Pukul 13.00, setelah menikmati snack Kartika Sari, kami kembali masuk ruang ujian. Saya hampir yakin, semua peserta di ruangan ini yang berjumlah 130 orang mengeluarkan pensil 2B lengkap dengan penghapus, atau bahkan dengan rautannya, demi menyambut 100 soal yang akan diujikan. Tapi ternyata eh ternyata, dua pensil 2B yang tadi tidak dipakai saat psikotest — psikotest memakai balpoint dan pensil HB yang disediakan panitia– yang sudah diraut amat runcing — bahkan ada yang pegang empat buah — tidak terpakai sama sekali. Ternyata kami hanya harus menyilang lembar jawaban yang tidak diset untuk komputerisasi. Selembar lembar jawaban biasa berisi 100 baris berisi huruf A, B, C, dan D. cukup disilang.
Namun rasa sakit terus bertambag intensitasnya, saya tidak lagi mampu berkonsentrasi dengan baik. Mungkin inilah akibatnya kalau nggak ajak-ajak anak jalan-jalan — kemarin saya ke pasar baru dulu –. Semua soal saya kerjakan tanpa pikir panjang, seadanya, seyakin-yakinnya saya, tidak dicek ulang, berharap keberuntungan saya menjawab dengan benar. Waktu yang diberikan 120 menit terlalu lama untuk saya saat ini. Biasanya saya canggung dan menunggu ada teman lain yang sudah selesai lalu saya ikut maju mengumpulkan, tapi kali ini saya melihat sekeliling masih pada sibuk mengotak-atik, membolak-balik halaman kertas soal. Ini sudah tidak dapat dibiarkan. Terlalu sakit untuk merasa canggung. Segera saya bangkit, saya tinggalkan lembar jawaban di kursi, dan pamit pulang kepada pengawas ujian.
Rekan-rekan sejawatku tersayang, bukan maksud hati saya tidak sopan, tidak pamit, tidak cipika-cipiki, tidak dadah-dadah dulu dengan Anda sekalian. Ada rasa sakit yang teramat menyiksa yang membawa saya harus segera pulang. But it was so beautiful to see u all again.
Maka saya langsung menuju sepeda motor, dan langsung melesat lagi menyusuri jalanan Pasteur-dayeuhkolot tanpa mampir kemana-mana –padahal banyak tempat jalan-jalan– beroff road ria yang semakin memperparah rasa sakit ini. Dan sampailah saya kembali ke rumah, dan segeralah saya memerah ASI yang sedemikian berlimpah. Dan berkuranglah rasa sakit yang selama tadi mendera saya. Alhamdulillah… ujian ptt yang menyakitkan pun berakhir.
Tak mau lagi merasakan sakit tadi, setelah shalat dan makan, saya langsung pamit pulang kembali lagi ke Ciamis. Diantar ke Cicaheum naik sepeda motor, beroff road ria lagi, salip-salip, nyelip-nyelip lagi –tapi kali ini dibonceng–, lalu saya naik bus Budiman jurusan Bandung-Banjar. Karena glandula mammae ku terus saja memproduksi ASI, rasa sakit itu datang lagi. Oh no…. menunggu sekitar 30 menit, akhirnya bus jalan juga. Tapi angkutan umum tak selalu seperti yang dibayangkan. Oh terasa lama sekali di perjalanan. Bus yang hanya berisi empat penumpang termasuk saya akhirnya mengantarkan saya ke rumah pukul 21.00. Sampai di Ciamis sore hari pun tinggal angan-angan belaka. Demi rasa sakit yang mendera kembali sepanjang perjalanan yang menyebabkan saya sama sekali tidak bisa tidur, Zahra yang belum tidur –mungkin menunggu saya pulang – langsung saya susui. Tentu saja setelah cuci tangan, dan membasuh mammae nya terlebih dahulu. Dan Zahra pun menyusu dengan lahapnya. Sekali lagi perjalanan pulang yang menyakitkan pun berakhir. Terima kasih Allah, terima kasih Zahra.